oleh

Selain Fasilitas Dasar, Warga Keluhkan Fasilitas Melaut dan Pertanian, Ketua DPRD Antusias Tampung Aspirasi Warga

RuangKutim.com – Hasil reses anggota DPRD Kutai Timur (Kutim) telah diparipurnakan. Tujuannya agar cepat diserahkan ke sistem informasi pembangunan daerah (SIPD). Sebagai wujud menyamakan persepsi saat musyawarah rencana pembangunan (musrembang) berlangsung.

Datang langsung di setiap daerah pemilihannya (dapil). Ketua DPRD Kutim Joni mengatakan, ketika reses banyak permintaan masyarakat. Misalnya, di Kecamatan Teluk Pandan yang terdapat kelompok petani dan nelayan.

“Kelompok nelayan meminta pengadaan untuk keperluan melaut. Mesin ketinting dan perahu. Ada pula yang meminta kapal untuk keperluan nelayan berkelompok,” paparnya.

Sementara kelompok petani, meminta alat penggarapan menanam cepat. Misalnya untuk menanam sayuran dan lainnya. Sehingga memerlukan teknologi agar lebih cepat dan mudah.

“Selama ini kebanyakan petani masih menggunakan cangkul untuk menggarap lahannya. Memang perlu diperhatikan,” sebutnya.

Sementara itu, Kecamatan Rantau Pulung kebanyakan meminta pupuk. Sebab, kebanyakan warga petani sawit. Sebenarnya, program yang lain juga harus dipenuhi. Misalnya air bersih dan infrastruktur. Namun, pupuk dianggap lebih prioritas oleh warga.

“Pupuk menentukan hasil panen. Kalau bagus, otomatis panennya juga banyak,” ungkapnya.

Adapun Kecamatan Bengalon mengeluh terkait listrik. Tepatnya di Desa Tepian Indah. Mereka mendesak agar dapat penerangan. Apalagi di bagian depan desa tersebut sudah ada aliran listrik PLN. Hanya, tidak menjangkau hingga desa tersebut.

“Mereka sudah menghadap kepada pihak PLN. Karena tidak ada tiangnya, akhirnya belum terealisasi. Padahal di beberapa desa tidak menggunakan tiang milik PLN tapi bisa. Meskipun hanya menggunakan tiang dari kayu,” ucapnya.

Bahkan saking antusiasnya, warga sampai menghibahkan kabel kepada PLN. Kabel itu dulu digunakan untuk penerangan yang dikelola badan usaha milik desa (bumdes) dengan tiang ulin.

“Bahkan sudah terbentang. Tinggal aliran listriknya saja yang harus diperjuangkan. Apalagi instalasi dari rumah ke rumah sudah ada,” jelasnya.

Masyarakat mengeluh, kenapa ada yang bisa ada yang tidak. Padahal jaraknya hanya ratusan meter. Sekarang warga masih menggunakan generator seat.

“Biaya operasionalnya lebih besar. Harus dikomunikasikan kepada pihak PLN secepatnya,” pungkasnya. (rk)

News Feed