oleh

Eforia Pemilukada Jadi Perbincangan Hangat, Figur Menjadi Perhatian Milenial, Kalangan Tua Cenderung Fanatik

-Politik-49 views

ruangkutim.com – Pembahasan pemilihan umum kepala daerah (pemilikada) tampaknya bukan sekadar pembahasan orang dewasa. Dalam kerumunan anak-anak pun kerap terjadi perbincangan kecil seputar pemilu yang lagi hangat-hangatnya.

Ada yang mendalil bahwa menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) itu enak, lo. Namun, yang lain menimpali bahwa jadi bupati lebih enak. Sebab, banyak yang mengawal. Ini hasil pengamatan yang dilakukan akademisi STAI Sangatta, Kutai Timur (Kutim), Direktur Esekutif Politica And Social Studies Institut (PSS Institute), Dr Hartono.

Dengan logika, Dr Hartono mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Sebab, anak sekecil itu sudah mulai sadar akan politik praktis yang terjadi di sekitarnya. Apakah ini bagian eforia politik yang tidak disadari oleh kebanyakan masyarakat?

Eforia terjadi dengan dimulainya masa kampanye. Menjadi tugas bersama antara penyelengara pemilu, pengawas pemilu dan partai politik (parpol) pengusung maupun pendukung agar dapat menghadirkan pemilu yang sehat, transparan dan mendidik masyarakat dalam hal politik.

Apalagi pilkada serentak akan dihelat pada tanggal 9 Desember 2020. Mengutip perkataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, “Walaupun masa pandemi pilkada tetap dilaksanakan. Sekaligus menjadi peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan pemimpin terbaik, unggul, inovatif, amanah dan efektif untuk menghadapi krisis pandemi Covid-19”.

Walaupun kebijakan pemerintah mengenai pelaksanaan pilkada ini disanggah oleh banyak kalangan. Mengingat, pandemi Covid-19 belum mereda. Namun, pemerintah sepertinya tetap akan menghelatnya.

Dalam hal eforia politik di masyarakat, dengan pilihan sistem demokrasi yang tersedia. Masyarakat sungguh memiliki hak. Apalagi politik dalam perspektif yang luas sederhana sekali, yakni setiap hari dan waktu sejatinya manusia berpolitik kata Aristoteles dengan meyebut manusia sebagai zoon politicon.

Zoon politicon merupakan istilah untuk meyebut mahluk sosial. Zoon adalah hewan dan politicon adalah masyarakat. Kodratnya hewan (manusia) yang tercerahkan melalui logos/akal menghendaki adanya interaksi dan perkumpulan satu sama yang lain. Dengan pemahaman tersebut, maka menjadilah manusia politik.

Sesederhana itulah politik. Ditambah lagi acap kali ditemukan masyarakat yang dengan mudahnya berbicara politik. Misalnya, grup sosial media (sosmed), kelompok arisan, pengajian, ronda dan lainnya.

Namun, dalam ijtihad politik keindonesiaan, sejatinya politik tidak boleh membawa anak-anak di bawah umur, istitusi pendidikan, institusi keagamaan serta semua yang telah diatur di dalam undang-undang.

Eforia politik sekarang, ada dua hal yang menjadi catatan bagi pemilih nantinya. Pertama, Figur Politik (politisi). Dari ketiga pasangan calon (paslon) yang muncul, ada yang berasal dari parpol pengusungnya. Fakta tersebut tentu menjadi pertanyaan serius. Mungkinkah ada kegagalan dalam pengkaderan partai sehingga ia tak mampu mencalonkan figur dari internal partai?

Tentu harus menjadi koreksi mendalam bagi parpol yang ada sekarang. Sebab, berpolitik dengan mendirikan partai tidak semata-mata mencari kuasa dan kekuasaan. Tetapi, mampu menghadirkan figur yang idela, mampu dan negarawan.

Kemudian, Mesin Politik. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pilkada atau kontestasi politik. Mesin politik juga harus berjalan dengan baik. Apakah bentuknya akan meyebar dengan sebutan tim sukses, relawan, simpatisan organik dan seterusnya.

Ini yang sudah terjadi dilapangan, mereka tak segan-segan hadir di tengah masyarakat dengan menawarkan dan memperkenalkan paslon. Jangan sampai mesin politik di setiap parpol tak berfungsi dan dikalahkan oleh kekuatan figur yang ada.

Mengenai penangkapan kepala daerah dan angota dewan yang terlibat dalam kasus-kasus pidana. Tentu akan menjadi tsunami politik di setiap partai dan akan sangat berimplikasi terhadap perolehan suara ketika perhelatan pilkada.

Sehingga terdapat dua kesimpulan. Bagi kalangan pemilih melenial. Pilihan rasional-pragmatis dengan melihat sosok-figur. Maka diutamakan untuk melihat latar belakang atau track record, karya yang dihasilkan dan seterusnya. Ini menjadi penting lantaran kalangan melenial mampu mengakses segalanya lewat teknologi yang begitu dekat denga mereka.

Kemudian di kalangan tua, pemilih memiliki kecenderungan fanatik dan reromantika. Pasalnya, kalangan tua biasanya selalu tertanam dalam penaknya partai A dulu yang pernah membangun ini dan itu. Tanpa mau melihat figur-figur yang ditawarkan. Sedangkan belum dapat dipastikan apakah calon yang diusung parpol tersebut mampu memberi dan menawarkan perubahan.

Itulah eforia politik ditengah-tengah masyarakat. Harapannya semoga pilihan apapun partainya, siapapun figurnya tentu diharapkan mampu menawarkan ide gagasan untuk kebaikan dan kemajuan setiap daerahnya. (rk)

News Feed