oleh

Musim Kemarau BPBD Waspada Karhutla, Bentuk Tim Anti Api Kecamatan, Siap Penuhi Sapras Hingga Tahun Depan

uangkutim.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi masalah serius di Kutai Timur (Kutim). Penanganan akan sulit jika terjadi di pedalaman. Apalagi tidak semua wilayah terdapat petugas dan armada penanganan karhutla.

Seluruh kecamatan memang sudah terdapat pos siaga. Bahkan, lengkap dengan sarana dan prasarana (sapras) penanganan karhutla. Namun, di kawasan pedesaan belum tersedia.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim Syafruddin mengatakan, pihaknya sudah membentuk masyarakat anti api yang tersebar di kawasan pedalaman. Bahkan, petugas selalu siaga di 18 kecamatan.

“Kami terus mengupayakan peningkatan sapras agar penanganan bisa lebih cepat. Tahun lalu pernah terjadi dua karhutla. Di Sangatta Selatan dan Sangatta Utara. Karena keterbatasan armada dan petugas, terlambat tiba. Ini jadi pembelajaran bagi kami,” ungkapnya.

Pihaknya juga mengupayakan kelengkapan sapras dapat terpenuhi tahun ini. Jika masih belum memadai, tahun depan akan diusulkan. Tahun ini anggaran BPBD untuk karhutla Rp 40 miliar. Termasuk peningkatan sapras dan penanganan karhutla.

“Apalagi ada dana bagi hasil dan reboisasi (DBHR) yang di kelola Dinas Lingkungan Hidup. Ini akan membantu kami dalam penanganan setelah karhutla terjadi,” tuturnya.

Kutim diuntungkan dengan wilayah geografis yang terdapat lintasan garis katulistiwa. Kondisi angin cenderung stabil dan tidak membahayakan. Apalagi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) menyebut bahwa tanah di Kutim termasuk lembab.

“Sehingga, selama kemarau melanda tahun ini. Belum pernah terjadi kebakaran serius. Apalagi hujan masih turun dalam sepakan. Ini sangat membantu. Saya harap kondisi ini tetap stabil dan berkelanjutan. Tapi tim kami tetap siaga,” pungkasnya. (rk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed